Di tengah masa pandemi, menjaga dan memperkuat imunitas tubuh
merupakan kunci untuk menjauhkan diri dari infeksi virus COVID-19. Salah
satu cara yang dilakukan banyak orang demi mewujudkan hal ini adalah
dengan rutin mengonsumsi suplemen sarat vitamin dan mineral,
khususnya vitamin D.
Secara umum, vitamin D dikenal sebagai vitamin yang larut dalam lemak
dan membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh untuk menjaga
kesehatan tulang. Namun seperti yang sempat disinggung di bagian
awal, vitamin yang satu ini sebenarnya juga memiliki peran besar dalam
menjaga imunitas tubuh.
Arti vitamin D dalam menghadapi COVID-19
Efektivitas vitamin D sebagai penangkal COVID-19 telah dikonfirmasi oleh
sejumlah studi dan penelitian. Salah satu pembuktian ini muncul dari
penelitian yang menyatakan bahwa risiko infeksi COVID-19 pada orang
dengan defisiensi atau kekurangan vitamin D jauh lebih tinggi (54%)
dibandingkan mereka yang memiliki cukup asupan.
Penelitian lainnya membuktikan bahwa konsumsi vitamin D3 dalam dosis
tinggi (60.000 satuan internasional/hari) pada pasien COVID-19 dapat
mempercepat perolehan hasil negatif pada tes PCR. Bahkan, dalam
kadar yang cukup, sangat memungkinkan bagi vitamin D3 untuk
mengurangi dampak hingga tingkat kematian dari virus ini.
“Risiko infeksi COVID-19 pada orang dengan
defisiensi atau kekurangan vitamin D jauh lebih
tinggi (54%) dibandingkan mereka yang memiliki
cukup asupan.”
Uniknya, kadar vitamin D dalam tubuh dapat dicek melalui pemeriksaan
darah di laboratorium. Dari sini, tentu Anda dapat mengetahui kuat /
tidaknya tubuh dalam menghadapi berbagai penyakit.
Adapun, acuan kadar vitamin D adalah sebagai berikut:
*Berdasarkan standar negara-negara Eropa, karena belum ada
penetapan di Indonesia.
**Ada 2 unit satuan yang digunakan untuk menyatakan kadar Vitamin
25(OH)D, namun di Indonesia yang digunakan adalah dalam satuan ng/ml.
Mudah didapatkan, tidak lantas cukupi kebutuhan
Vitamin D juga dikenal sebagai vitamin matahari, mengingat
pembentukan vitamin ini terjadi secara alamiah saat kulit menerima
terpaan cahaya surya. Sebegitu eratnya kaitan vitamin D dengan sinar
matahari, sebetulnya kebutuhan akan asupan vitamin ini sudah dapat
terpenuhi jika kita sering-sering berjemur.
Meski mudah didapat, nyatanya masih banyak sekali orang-orang yang
kekurangan vitamin D. Mengutip salah satu artikel dari Halodoc.com,
jumlah orang dengan defisiensi vitamin ini bahkan menyentuh angka
satu miliar, atau lebih dari ⅛ populasi dunia kini!
Ironisnya, defisiensi akan vitamin D juga dialami oleh penduduk Indonesia
yang justru kaya akan sinar matahari. Mengutip berita dari Kompas.com,
Ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia, Prof Dr Budi Setiabudiawan dr
SpA(K) menjelaskan bahwa golongan usia lanjut.
(78,2 persen), wanita dengan rentang usia 18-40 tahun (63 persen), dan
anak-anak yang berusia 6 bulan sampai 12 tahun (44 persen) merupakan
kalangan paling rentan mengalami kekurangan vitamin D.
Kunci hadapi pandemi: Jaga & pantau kadar vitamin D
Kembali ke awal bahasan, sebisa mungkin cobalah rutin keluar rumah
demi mendapat vitamin D dari sinar matahari. Selain tidak memerlukan
biaya, berada di luar ruangan juga dapat memotivasi Anda untuk lebih
banyak melakukan kegiatan fisik, yang tentunya juga baik bagi tubuh di
masa pandemi.
Andaipun tidak memiliki waktu luang untuk berjemur secara rutin,
sebetulnya Anda tidak perlu terlalu khawatir. Vitamin D tetap bisa
didapatkan dengan mengonsumsi makanan seperti ikan, minyak ikan,
hati sapi, keju, telur, jamur dan susu serta suplemen vitamin D3.
Selain itu, jangan lupa juga untuk melakukan pemantauan berkala
terhadap kadar vitamin D dalam tubuh. Hal ini memungkinkan Anda
untuk mendapat gambaran akan performa sistem imun tubuh secara
periodik, yang lantas mencegah kemungkinan terjadinya defisiensi / over
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai vitamin D3 ini. Silahkan hubungi WA 08114324872 atau 085240589999.